Hari itu, Kamis, 8 Januari 2026.
Hujan turun begitu deras, 비가 정말 세차게 내리고 있었다.
Langit kelabu menyelimuti SMKN 1 Banyuwangi, membuat banyak siswa memilih untuk tidak langsung pulang. Termasuk Damar… dan Min Je.
Damar duduk sendirian di kantin sekolah. Ia menatap hujan dengan senyum kecil.
Dia memang menyukai hujan. 비는 좋아하지만 천둥은 싫어했다.
Hujan membuatnya tenang, seolah dunia melambat sejenak.
Tanpa ia sadari, di sisi kanan kantin, Min Je sedang duduk bersama temannya, menunggu hujan reda.
Damar sibuk berbincang dengan temannya, Kennie.
“Kayaknya kita terobos aja ya, pake jas hujan,” kata Kennie.
Damar mengangguk pelan…
Namun saat ia menoleh ke kanan—
matanya bertemu dengan mata Min Je.
심장이 쿵 내려앉았다.
Jantungnya berdebar tak karuan.
“E-eh… halo, Min Je,” ucap Damar sambil melambaikan tangan, suaranya sedikit bergetar.
Min Je tersenyum kecil dan melambaikan tangan balik.
Sesederhana itu… tapi cukup membuat dunia Damar terasa berhenti.
Saat itu juga, Damar menarik kembali niatnya untuk pulang.
Ia memilih duduk lebih lama, sesekali mencuri pandang ke arah Min Je.
Kennie yang paham betul maksud hati Damar, menepuk bahunya.
“Kenapa nggak pulang aja sekalian tanya?”
Dengan tekad bercampur gugup, Damar akhirnya berdiri dan mendekat.
“Kenapa nggak pulang, Min Je?”
Pertanyaan yang terdengar konyol… tapi jujur.
Min Je tertawa kecil.
“Masih hujan. Habis ini juga mau ke Bank Jatim buat minta tanda tangan.”
Damar terdiam sejenak.
Perasaannya campur aduk—malu, khawatir, dan ingin membantu.
“Kalau gitu… pake aja jas hujannya Damar,” katanya pelan.
“Soalnya Bank Jatim nanti tutup. Takut nggak keburu.”
“Ehh… 아니야, nggapa-nggapa,” jawab Min Je sambil menggeleng.
“Aku tunggu hujannya reda aja.”
Di dalam hati, Damar berdoa lirih,
“Ya Allah… deraskanlah hujannya.”
Dan seakan didengar…
비가 더 세게 내리기 시작했다.
Damar pun bangkit dengan wajah serius namun tulus.
“Udah, pake aja jas hujannya Damar. Damar masih lama di sekolah, ada kegiatan.
Pake dulu ya… anggap aja Damar lagi cari pahala.”
Min Je menatapnya ragu.
“Beneran nggak apa-apa? Nanti aku balikin langsung ya setelah dari sana.”
“Gak perlu,” jawab Damar cepat.
“Langsung pulang aja. Takut nanti malah sakit.”
Min Je tersenyum hangat.
“고마워요, Damar.”
Hujan tak menyurutkan langkah Damar.
Ia menerobos hujan menuju sepedanya, mengambil jas hujan…
dan tanpa ragu, ia juga membawa almamater miliknya untuk Min Je.
Hari itu, bukan hanya hujan yang turun—
tapi juga keberanian kecil dari hati yang tulus.
Senin, 12 Januari 2026
Pagi itu, upacara bendera akan dilaksanakan.
Langit cerah, tapi hati Damar berdebar.
Tiba-tiba, notifikasi berbeda berbunyi dari ponselnya.
Min Je:
“Kelasnya Damar di G1 kah? Aku mau ngembaliin almamater.”
Damar tersenyum tanpa sadar.
“Iya, di G1. Kabari aja ya kalau sudah sampai.”
Hari itu, Damar berniat datang lebih pagi.
Ia ingin membelikan sarapan untuk Min Je.
Pukul 05.45, Damar sudah tiba di sekolah.
Ia menuju kantin dan membeli dua roti dan satu susu.
Tak lama kemudian, notifikasi kembali berbunyi.
“Aku sudah di depan G1.”
심장이 또 다시 빨리 뛰기 시작했다.
Damar menghampirinya dengan langkah cepat—
hati gembira, wajah memanas, salting brutal.
Saat Min Je menyerahkan almamater, Damar bertanya pelan,
“Kamu sudah sarapan?”
Min Je menggeleng.
“Belum… tapi aman kok, 진짜.”
Lalu Min Je pergi begitu saja…
meninggalkan Damar yang masih berdiri di sana.
Saat ia membuka almamaternya—
ada susu Milo di dalamnya.
Damar terdiam.
Dadanya terasa hangat.
Ia segera masuk kelas, mengambil hadiah yang sudah ia siapkan, lalu mengejar Min Je.
Saat akhirnya bertemu, Damar menyerahkan roti dan berkata sambil tersenyum malu,
“Anggap aja Damar cari pahala lagi.
Jangan lupa dimakan ya.”
Min Je menatapnya, tersenyum lembut.
“정말 고마워, Damar.”
Di antara pagi, upacara, dan langkah-langkah sederhana…
Damar belajar satu hal:
Kadang, perhatian kecil—
jas hujan, almamater, dan segelas Milo—
bisa menjadi kenangan yang tak pernah hujan hapuskan. 🌧️💚